Jaringan Mitra Publik

Dari Balik Jeruji ke Kebun Melon: Ketakutan Pengunjung Luruh di Rutan Boyolali

0

BOYOLALI, JMPnews – Senin (11/5) suasana di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Boyolali terasa berbeda. Tidak ada wajah tegang seperti yang selama ini identik dengan penjara. Di balik pagar tinggi dan tembok pengaman, justru tampak antrean warga yang membawa kantong belanja sambil tersenyum penasaran.

Mereka datang bukan untuk membesuk tahanan. Mereka datang untuk memetik melon. Program wisata petik melon “Warga Binaan Berdaya” yang digelar Rutan Boyolali, Senin (11/5/2026), sukses menyedot perhatian masyarakat. Sebanyak 120 buah melon jenis sweet lavender hasil budidaya warga binaan dipanen dan dibuka untuk umum.

Namun bagi sebagian pengunjung, datang ke dalam lingkungan rutan bukan perkara biasa, Ada rasa takut, Ada bayangan menyeramkan tentang penjara. Ada kekhawatiran saat pertama kali melangkahkan kaki masuk ke area rutan.

“Sempat deg-degan juga waktu mau masuk. Namanya penjara ya, kebayangnya serem,” ujar Dwi Wati, salah satu pengunjung asal Boyolali sambil tersenyum kecil.

Ia mengaku awalnya hanya penasaran setelah melihat informasi wisata petik melon dari media sosial. Namun rasa canggung dan khawatir sempat muncul ketika harus melewati pintu pemeriksaan petugas rutan.

“Ternyata setelah masuk suasananya berbeda dari yang saya bayangkan. Petugasnya ramah, tempatnya bersih, dan warga binaannya juga terlihat serius bekerja,” katanya.

Di dalam greenhouse hidroponik milik Rutan Boyolali, suasana justru terasa hangat. Deretan tanaman melon menggantung rapi, aroma segar buah memenuhi ruangan. Beberapa warga binaan tampak sibuk membantu pengunjung memilih melon terbaik sambil sesekali menjelaskan proses budidayanya.

Tak ada jarak yang kaku, percakapan sederhana antara pengunjung dan warga binaan mengalir natural. Dari obrolan soal rasa melon, teknik hidroponik, hingga cerita tentang keluarga di rumah. Di titik itulah, banyak pengunjung mulai melihat sisi lain dari balik tembok penjara yakni “sisi manusia”.

Kepala Rutan Boyolali, Ervans Bahrudhin Mulyanto, mengatakan kegiatan tersebut memang bukan sekadar panen atau jual beli hasil pertanian. Lebih dari itu, program ini ingin membuka ruang interaksi positif antara warga binaan dan masyarakat.

“Kami ingin menunjukkan bahwa warga binaan juga bisa berkarya, produktif, dan punya kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik,” ujar Ervans.

Melalui pembinaan pertanian modern berbasis hidroponik, warga binaan dilatih menanam, merawat, hingga memanen melon secara mandiri. Hasil penjualan nantinya diberikan dalam bentuk premi kepada warga binaan yang terlibat.

Premi tersebut digunakan untuk membantu kebutuhan keluarga mereka, termasuk biaya sekolah anak-anak di rumah.

“Harapannya, mereka merasa tetap punya peran dan tanggung jawab untuk keluarga walaupun sedang menjalani masa pidana,” lanjut Ervans.

Hari itu tak butuh waktu lama, seluruh melon yang disediakan habis terjual. Antusiasme masyarakat di luar dugaan, banyak pengunjung bahkan berharap wisata petik melon seperti ini bisa kembali digelar secara rutin.

Bagi sebagian orang, kunjungan ke rutan hari itu mungkin hanya soal membeli buah, Namun bagi yang datang dengan rasa takut dan prasangka, pengalaman tersebut justru meninggalkan pelajaran lain. Bahwa di balik seragam warga binaan, tetap ada manusia yang sedang belajar memperbaiki hidupnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.