SEMARANG, JMPnews – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Semarang menjadi lokasi pelaksanaan Studi Lapangan (STULA) bagi peserta Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) dan Pelatihan Kepemimpinan Pengawas (PKP) Angkatan I Tahun 2026, Selasa (21/04). Kegiatan ini diikuti oleh 80 peserta yang terdiri dari 40 peserta PKA dan 40 peserta PKP dari lingkungan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari penetapan Lapas Kelas I Semarang sebagai lokus pembelajaran lapangan oleh Balai Besar Pengembangan Kompetensi Aparatur (BBPKA-PDN II). Tujuannya adalah memberikan pengalaman langsung kepada peserta dalam memahami praktik penyelenggaraan tugas pemasyarakatan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan penerimaan peserta serta pembekalan awal, termasuk pengarahan terkait prosedur layanan kunjungan dan mekanisme masuk ke dalam Lapas melalui P2U. Selanjutnya, peserta diajak meninjau langsung berbagai unit layanan dan pembinaan, seperti green house, dapur, kegiatan kerja (giatja), serta klinik pratama.
Melalui kunjungan tersebut, peserta memperoleh gambaran nyata mengenai implementasi pembinaan kemandirian, pelayanan kesehatan, hingga pengelolaan kegiatan kerja di dalam Lapas.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi seremonial di Graha Pancasila yang meliputi pembukaan, menyanyikan lagu kebangsaan, doa, sambutan penyelenggara, penayangan video profil, serta sambutan Kepala Lapas Kelas I Semarang.
Dalam sambutannya, Kepala Lapas Kelas I Semarang, Ahmad Tohari, menyampaikan bahwa kegiatan studi lapangan ini merupakan momentum penting untuk saling berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam penyelenggaraan pemasyarakatan.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan gambaran nyata kepada para peserta terkait pelaksanaan pembinaan, pelayanan, serta pengelolaan keamanan di dalam Lapas. Ini menjadi ruang untuk saling belajar dan bertukar pengalaman dalam meningkatkan kualitas kinerja,” ujar Ahmad Tohari.
Ia menambahkan bahwa pemasyarakatan saat ini dituntut untuk terus bertransformasi menjadi lebih humanis, produktif, dan akuntabel, sehingga inovasi dan kolaborasi menjadi kunci utama dalam menjawab tantangan tersebut.
Setelah sesi seremonial, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kelompok bersama pejabat struktural sesuai bidang masing-masing. Diskusi ini bertujuan memperdalam pemahaman peserta terkait manajemen kinerja serta pelayanan pemasyarakatan.
“Kegiatan studi lapangan ini diharapkan mampu mendorong peserta untuk mengidentifikasi inovasi, melakukan benchmarking, serta merumuskan ide pengembangan yang dapat diterapkan di unit kerja masing-masing,” ujar Ahmad Tohari.