50 Warga Binaan Lapas Semarang Terima Premi, Bekal Keterampilan untuk Usaha Setelah Bebas
SEMARANG — Program pembinaan kemandirian di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Semarang tidak hanya membekali warga binaan dengan keterampilan kerja, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi. Sebanyak 50 warga binaan menerima premi atas kontribusi mereka dalam berbagai kegiatan produktif yang dijalankan di lingkungan lapas.
Pemberian premi tersebut diberikan kepada warga binaan yang terlibat dalam 17 unit kegiatan kerja. Program ini menjadi bagian dari pembinaan kemandirian untuk mengembangkan keterampilan, menanamkan kedisiplinan, serta memberikan pengalaman kerja yang dapat dimanfaatkan setelah mereka menyelesaikan masa pidana.
Premi diberikan dalam bentuk uang tunai sebesar 10 persen dari hasil penjualan, sementara sebagian lainnya ditabung sebagai simpanan. Skema tersebut diharapkan dapat memberikan penghargaan atas hasil kerja warga binaan sekaligus mendorong kebiasaan mengelola keuangan secara lebih baik.
Salah satu unit kegiatan yang menghasilkan premi tertinggi adalah bakery. Capaian ini menunjukkan potensi kegiatan produksi makanan sebagai bagian dari pembinaan yang tidak hanya mengasah keterampilan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi.
Kepala Lapas Semarang mengatakan, pemberian premi merupakan bentuk apresiasi terhadap kerja keras, kedisiplinan, dan tanggung jawab warga binaan selama mengikuti kegiatan pembinaan kemandirian.
“Pemberian premi ini merupakan bentuk apresiasi atas kerja keras, kedisiplinan, dan tanggung jawab warga binaan selama mengikuti kegiatan pembinaan kemandirian. Kami berharap kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat secara ekonomi, tetapi juga memberikan keterampilan, serta rasa percaya diri sebagai bekal ketika mereka kembali ke masyarakat,” ujar Kalapas Semarang.
Ia menambahkan, Lapas Semarang akan terus mendorong pengembangan kegiatan produktif dengan memperhatikan aspek pembinaan, peningkatan keterampilan, dan manfaat nyata bagi warga binaan.
Manfaat program tersebut dirasakan KE (38), warga binaan perkara narkotika yang tengah menjalani hukuman 16 tahun penjara. Selama enam tahun bekerja di berbagai unit kegiatan lapas, ia mengaku memperoleh banyak pengalaman dan keterampilan baru yang ingin dimanfaatkannya untuk membuka usaha setelah bebas.
“Selama enam tahun kerja di sini, saya banyak mendapatkan keahlian dan pengalaman baru, mulai dari unit cotton bud, tas kulit, donat, kemudian terakhir di laundry. Dibilang cukup ya cukup, Pak. Biasanya buat beli kebutuhan sehari-hari, jajan, kirim istri dan juga orang tua,” kata KE.
Bagi KE, kegiatan kerja di dalam lapas bukan sekadar cara memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pengalaman tersebut juga memberinya gambaran tentang peluang usaha yang dapat dirintis setelah kembali ke masyarakat.
Ia mengaku mulai mempelajari proses kerja laundry, termasuk cara membuat sabun dan menghitung modal usaha. Pengetahuan tersebut mendorongnya untuk merencanakan usaha laundry setelah bebas.
“Ya, kan di sini bisa tahu cara buat sabun, cara hitung modal, pengennya di rumah buat usaha,” ujarnya.
Selain bekerja, KE mengatakan dirinya berusaha mengisi waktu dengan beribadah di masjid. Setelah menjalani masa hukuman selama tujuh tahun, ia berharap dapat memenuhi persyaratan untuk mengajukan pembebasan bersyarat pada tahun berikutnya.
Kisah KE menjadi salah satu gambaran bagaimana pembinaan kemandirian dapat membuka peluang bagi warga binaan untuk menyiapkan masa depan. Melalui kegiatan kerja produktif, pemberian premi, dan pengembangan keterampilan, Lapas Semarang berupaya mempersiapkan warga binaan agar memiliki bekal ekonomi dan kepercayaan diri ketika kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.