Ternak Ayam Petelur, Rutan Banyumas Libatkan Warga Binaan
BANYUMAS – Budidaya ayam petelur di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Banyumas mulai menunjukkan perkembangan positif. Dari 16 ekor ayam yang dipelihara, produksi telur yang sebelumnya belum ada kini telah mencapai sekitar 9 butir dalam sehari.
Peningkatan produksi tersebut menjadi bagian dari program ketahanan pangan sekaligus pembinaan kemandirian bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP). Untuk menjaga kesehatan ayam dan mempertahankan produktivitas, Rutan Banyumas melakukan monitoring serta pencatatan secara rutin.
Pemantauan dilakukan pada Sabtu (19/9/2026) dengan melibatkan WBP bersama peserta magang. Mereka memeriksa kondisi fisik ayam, memastikan ketersediaan pakan dan air minum, menjaga kebersihan kandang, serta mencatat jumlah telur yang dihasilkan setiap hari.
Salah satu WBP berinisial H mengatakan pencatatan produksi membantu mengetahui perkembangan ayam secara lebih terukur. Menurutnya, hasil pencatatan menunjukkan adanya peningkatan produksi sejak ayam mulai dipelihara.
“Setiap hari kami lihat kondisi ayam dan kami catat juga berapa telur yang didapat. Jadi dari catatan itu bisa kelihatan perkembangannya, apakah produksinya bertambah atau berkurang. Awalnya memang belum bertelur, tetapi sekarang sudah bisa mendapatkan sekitar 9 butir dalam sehari,” ujar H.
Selain mencatat produksi telur, WBP juga memastikan kebutuhan dasar ayam terpenuhi. Pakan dan air minum disediakan secara rutin, sementara kandang dibersihkan untuk menjaga kondisi lingkungan tetap sehat.
“Kalau untuk perawatannya, kami usahakan pakan dan minumnya selalu tersedia. Kandang juga dibersihkan supaya ayam tetap nyaman. Sampai sekarang kondisi ayam sehat dan tidak ada yang terlihat sakit. Kalau ada perubahan kondisi atau produksi telur menurun, nantinya bisa langsung kami laporkan,” katanya.
Petugas Rutan Kelas IIB Banyumas, Sigit Purwanto, mengatakan monitoring dilakukan untuk mengetahui perkembangan budidaya sekaligus memastikan pemeliharaan ayam berjalan secara teratur.
“Monitoring ini kami lakukan secara rutin, bukan hanya melihat jumlah telur yang dihasilkan, tetapi juga memperhatikan kondisi ayam, pakan, minum, dan kebersihan kandang. Dengan adanya pencatatan, kami bisa mengetahui perkembangan ayam dari hari ke hari dan lebih mudah melakukan evaluasi apabila ada perubahan pada kondisi maupun produksinya,” ujar Sigit.
Menurut Sigit, keterlibatan WBP dalam budidaya ayam petelur juga menjadi bagian dari pembinaan kemandirian. WBP tidak hanya dilibatkan dalam pekerjaan pemeliharaan, tetapi juga belajar mencatat dan mengevaluasi hasil produksi.
“Harapannya kegiatan ini tidak hanya menghasilkan telur, tetapi juga memberikan pengalaman dan keterampilan kepada WBP dalam mengelola budidaya ayam petelur. Jadi mereka belajar dari proses pemeliharaan sampai pencatatan hasil produksinya,” tambahnya.
Hasil produksi telur dari budidaya tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan produktif di lingkungan Rutan Banyumas. Salah satunya digunakan sebagai bahan dalam pembuatan donat.
Melalui perawatan dan pencatatan yang dilakukan secara rutin, Rutan Kelas IIB Banyumas terus mengembangkan budidaya ayam petelur sebagai bagian dari program ketahanan pangan. Di sisi lain, kegiatan ini memberikan kesempatan kepada WBP untuk memperoleh pengalaman praktis dalam pemeliharaan ternak, pencatatan produksi, hingga pemanfaatan hasil budidaya.