Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
logo jmp JMP

Jaringan Mitra Publik

logo jmp JMP

Jaringan Mitra Publik

  • HOME
  • NASIONAL
  • POLHUKAM
  • PERISTIWA
  • OPINI
  • TOKOH
  • REDAKSI

Archives

  • July 2026
  • June 2026
  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • December 2024

Categories

  • INTERNATIONAL
  • NASIONAL
  • OPINI
  • PERISTIWA
  • POLHUKAM
  • TOKOH
  • HOME
  • NASIONAL
  • POLHUKAM
  • PERISTIWA
  • OPINI
  • TOKOH
  • REDAKSI
Subscribe
Close

Search

POLHUKAM

Nyoman Cantiasa: Kewaspadaan Nasional Jadi “Imunitas” Bangsa Hadapi Gejolak

By Redaksi
March 16, 2026 2 Min Read
0

JAKARTA, JMPnews – Mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara periode 2023–2024, I Nyoman Cantiasa, menegaskan pentingnya memperkuat kewaspadaan nasional di tengah konflik global yang semakin kompleks, cepat berubah, dan penuh ketidakpastian.

Hal itu disampaikan Nyoman saat memberikan ceramah kepada peserta Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) Angkatan XXVII di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) di Ruang Bhinneka Tunggal Ika, Gedung Pancagatra, Jumat (27/2).

Menurut mantan Wakil Kepala BIN tersebut, kewaspadaan nasional merupakan instrumen strategis yang menuntut kesiapan negara untuk mendeteksi, mengantisipasi, dan mencegah berbagai potensi ancaman sejak dini.

“Kewaspadaan nasional berfungsi sebagai imunitas bangsa dengan menjaga kohesi sosial di dalam negeri di tengah berbagai ancaman global,” ujar Nyoman.

Ia menjelaskan, dinamika geopolitik dunia kini telah bergeser dari era kestabilan menuju fase volatilitas tinggi. Kondisi ini, menurutnya, turut membawa dampak bagi Indonesia, baik dari sisi keamanan maupun ekonomi.

Salah satu contoh yang disoroti adalah konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat, yang berdampak pada stabilitas ekonomi global. Ketegangan tersebut memicu gangguan jalur pelayaran internasional, terganggunya rantai pasok, hingga kenaikan harga minyak dunia.

Akibat situasi keamanan di kawasan Timur Tengah, sejumlah kapal dagang terpaksa mengubah rute pelayaran melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan, yang membuat waktu pelayaran bertambah hingga sekitar 14 hari.

“Perubahan rute ini tentu meningkatkan biaya pengiriman atau shipping cost yang pada akhirnya berdampak pada perekonomian,” jelasnya.

Nyoman menambahkan, ancaman global yang berkembang dapat menjadi tekanan serius bagi kondisi nasional. Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun naluri kewaspadaan melalui berbagai pendekatan, antara lain sense of crisis, sense of urgency, pemanfaatan intelijen, penguatan diplomasi, kemampuan filtering information, serta sinergi antarinstansi.

Menurutnya, pemerintah telah menyiapkan sejumlah program nasional untuk mereduksi potensi ancaman tersebut. Namun, di tengah dunia yang semakin transaksional dan sulit diprediksi, Indonesia juga perlu menyesuaikan strategi geopolitiknya.

Ia menilai Indonesia tidak lagi cukup hanya mengandalkan retorika politik luar negeri “bebas aktif” secara tradisional. Sebaliknya, Indonesia perlu mengambil posisi netralitas aktif sebagai kekuatan penyeimbang dengan memanfaatkan posisi geografis strategis dan kekayaan sumber daya alam.

Di hadapan 85 peserta P3N Lemhannas, Nyoman juga menyinggung pengalaman Sri Lanka yang pernah mengalami krisis ekonomi dan ketidakstabilan politik akibat kegagalan kepemimpinan dalam mengintegrasikan instrumen kewaspadaan nasional secara efektif.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pelajaran penting bagi Indonesia agar mampu mengantisipasi tekanan eksternal yang berpotensi berkembang menjadi konflik internal.

“Kewaspadaan nasional menjadi sistem peringatan dini untuk mencegah tekanan eksternal berkembang menjadi konflik di dalam negeri,” katanya.

Pada akhir pemaparannya, mantan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) itu menawarkan konsep penguatan negara melalui pendekatan DIME (Diplomacy, Intelligence, Military, Economy). Pendekatan tersebut dinilai dapat memperkuat daya tawar Indonesia sekaligus memastikan negara tetap berada pada jalur tujuan nasional.

Ia menegaskan, integrasi diplomasi, intelijen, militer, dan ekonomi menjadi kunci bagi Indonesia untuk menghadapi volatilitas geopolitik global serta menjaga kedaulatan dan stabilitas nasional.

Tags:

Amerika-Israel vs IranEfek perangKewaspadaan nasionalNyoman cantiyasa
Author

Redaksi

Follow Me
Other Articles
Previous

Patroli Perintis Presisi Polda Metro Jaya Gagalkan Tawuran di Jakut, Tiga Celurit Disita

Next

Perkuat Pelayanan, Kapolda Metro Jaya Resmikan Kantor Satpamobvit dan Polsek Babelan

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Company

  • HOME
  • NASIONAL
  • POLHUKAM
  • PERISTIWA
  • OPINI
  • TOKOH
  • REDAKSI

Ads

  • NASIONAL
  • OPINI
  • PERISTIWA
  • POLHUKAM
  • TOKOH

Links

  • Newsletter
Copyright 2026 — JMP. All rights reserved. {{mtmnetwork}}