Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
logo jmp JMP

Jaringan Mitra Publik

logo jmp JMP

Jaringan Mitra Publik

  • HOME
  • NASIONAL
  • POLHUKAM
  • PERISTIWA
  • OPINI
  • TOKOH
  • REDAKSI

Archives

  • September 2026
  • August 2026
  • July 2026
  • June 2026
  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • December 2024

Categories

  • INTERNATIONAL
  • NASIONAL
  • OPINI
  • PERISTIWA
  • POLHUKAM
  • TOKOH
  • HOME
  • NASIONAL
  • POLHUKAM
  • PERISTIWA
  • OPINI
  • TOKOH
  • REDAKSI
Subscribe
Close

Search

OPINI

Jangan Lindungi Reformasi dengan Kecurigaan

By Redaksi
February 14, 2026 3 Min Read
0

OPINI S. Syarif
Penulis adalah advokat dan pemerhati publik

Ketika Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, mengingatkan adanya “penumpang gelap” dalam isu reformasi Polri, publik tentu berhak bertanya: siapa yang dimaksud, apa buktinya, dan mengapa tudingan itu dilontarkan tanpa penjelasan konkret?

Reformasi Polri adalah agenda serius. Ia menyangkut wajah negara hukum, perlindungan hak warga, dan legitimasi penegakan hukum. Maka setiap narasi yang menyentuh isu ini tidak boleh berhenti pada retorika. Karena jika tidak hati-hati, peringatan tentang “penumpang gelap” justru berpotensi menjadi tameng politik.

Reformasi Bukan Milik Elite
Reformasi institusi kepolisian bukan proyek kelompok, bukan agenda partai, dan bukan pula milik elite kekuasaan. Ia adalah tuntutan publik yang lahir dari pengalaman panjang relasi negara dan warga.

Kritik terhadap Polri—keras sekalipun—adalah bagian dari mekanisme demokrasi. Dalam negara hukum, kritik bukan ancaman. Kritik adalah alarm.
Menyebut adanya aktor yang “menunggangi” isu reformasi tanpa menyajikan fakta terverifikasi justru menciptakan preseden berbahaya: kritik bisa dianggap motif politik, bukan ekspresi pengawasan publik. Dan ketika kritik dilihat sebagai ancaman, demokrasi mulai kehilangan napasnya.

Fungsi Pengawasan atau Proteksi Politik?
Komisi III DPR memiliki fungsi pengawasan terhadap Polri. Itu mandat konstitusional. Tetapi pengawasan tidak identik dengan perlindungan politik.
Jika narasi “penumpang gelap” tidak diikuti pembuktian yang jelas, Siapa aktornya?, Apa bentuk intervensinya?, Bukti apa yang tersedia?

Maka publik wajar membaca pernyataan tersebut sebagai framing politik.
Di sinilah problem etika kekuasaan muncul. Dalam demokrasi yang sehat, pejabat publik tidak boleh membangun kecurigaan kolektif tanpa basis data. Sebab tudingan yang samar hanya memperluas polarisasi dan menggeser fokus dari substansi reformasi.

Menggeser Isu dari Substansi ke Motif

Reformasi Polri seharusnya berbicara tentang, Akuntabilitas struktural, Transparansi internal, Mekanisme pengawasan eksternal serta Pembenahan kultur kekuasaan

Namun ketika isu digeser menjadi soal “siapa bermain di belakang layar”, publik diarahkan untuk memperdebatkan motif, bukan sistem. Itulah risiko terbesar dari narasi seperti ini: reformasi berubah menjadi pertarungan niat, bukan pembenahan kelembagaan.

Jika benar ada mantan pejabat yang punya agenda tersembunyi, DPR seharusnya membuka datanya di forum resmi, bukan sekadar memberi sinyal. Demokrasi tidak dibangun di atas insinuasi.

Stabilitas Tidak Boleh Menjadi Alasan Membungkam Kritik

Sering kali stabilitas dijadikan argumen untuk meredam kegaduhan. Namun stabilitas yang dibangun dengan kecurigaan justru rapuh.

Stabilitas yang kuat lahir dari kepercayaan publik. Dan kepercayaan publik lahir dari keterbukaan, bukan dari framing politik terhadap para pengkritik. Jika setiap kritik dianggap “ditunggangi”, maka ruang partisipasi publik akan menyempit. Akademisi, aktivis, bahkan warga biasa bisa merasa bahwa suara mereka dicurigai. Itu adalah chilling effect yang tidak sehat bagi demokrasi.

Ujian Kedewasaan Politik

Narasi “penumpang gelap” sebenarnya menguji kedewasaan politik kita. Apakah elite siap membedakan antara kritik konstruktif dan manipulasi politik secara objektif? Ataukah lebih mudah membangun pagar kecurigaan?

Reformasi institusi keamanan bukan arena perlindungan citra, melainkan arena pembenahan sistem. Jika sistemnya kuat, ia tidak perlu takut pada kritik.
Sebaliknya, jika kritik langsung dianggap ancaman, publik akan membaca bahwa reformasi belum sepenuhnya dipercaya oleh pengawalnya sendiri.

Jangan Jadikan Reformasi sebagai Benteng Kekuasaan
Reformasi Polri tidak boleh dijadikan benteng untuk melindungi kepentingan politik mana pun. Ia harus tetap menjadi proyek konstitusional yang transparan dan terbuka.
Jika ada aktor yang memanipulasi isu, bongkar dengan data.

Jika ada kepentingan tersembunyi, paparkan dengan bukti. Tetapi jangan biarkan kecurigaan menggantikan argumentasi. Karena pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan sekadar citra lembaga, melainkan kualitas demokrasi kita sendiri. Dan demokrasi yang sehat tidak pernah takut pada kritik ia hanya takut pada kekuasaan yang mulai alergi terhadapnya.***

Tags:

Pemerhati publikReformasi polisiS Syarif
Author

Redaksi

Follow Me
Other Articles
Previous

Polda Metro Jaya Bongkar Peredaran Sabu dan Narkotika Varian Baru di Cakung

Next

Bareskrim Tetapkan Eks Kapolres Bima Kota AKBP Didik Putra Kuncoro Jadi Tersangka Kasus Narkoba

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Company

  • HOME
  • NASIONAL
  • POLHUKAM
  • PERISTIWA
  • OPINI
  • TOKOH
  • REDAKSI

Ads

  • NASIONAL
  • OPINI
  • PERISTIWA
  • POLHUKAM
  • TOKOH

Links

  • Newsletter
Copyright 2026 — JMP. All rights reserved. {{mtmnetwork}}