Saturday, October 24, 2020
Home > Opini > Tingkat Pengangguran Indonesia di Tengah Pandemi Covid-19 oleh Dian Azizah

Tingkat Pengangguran Indonesia di Tengah Pandemi Covid-19 oleh Dian Azizah

Corona virus 2019 atau yang sering disingkat COVID19 sudah berlangsung beberapa bulan terakhir dan membuat kerasahan di semua negara termasuk Indonesia. Tepat di 2 maret 2020 pemerintah Indonesia mengumumkan adanya 2 pasiean tertapapar covid19, sedangkan menurut pakar Epidemiologi Universitas Indonesia menyebutkan covid19 masuk di Indonesia pada awal tahun bulan Januari. Kasus covid19 per21 Juli sudah menyentuh 89.869 dinyatakan positif, 48.466 dinyatakan sembuh, dan 4.320 dinyatakan meninggal dunia. Tepat ditanggal 21 juli 2020 gugus tugas percepatann penanganan covid 19 dibubarkan oleh Presiden Jokowi dan tugas dari gugus tugas lempar alihkan di bawah menteri koordinator bidang perekonomian.

Di tengah pandemi covid19 yang berkepanjangan ini munculah beberapa masalah mulai dari penanganan covid19 yang lambat sampai merosotnya perekonomian Indonesia itu sendiri.  Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Q2 2020 sempat diprediksi oleh Bank Indonesia akan terjadi minus 4,8%. Pelaku pasar juga memiliki pesimis besar yang mana Indek Harga Samah Gabungan (IHSG) memerah hingga anjlok 0,56% ke level 5.051,11 pada senin sore 20 Juli 2020. Rupiah pun terus bergerak mendekati angka 15.000 dan mencapai level terburuk 14.825 per dolar AS.

Pandemi ini pun membuat sejumlah sektor usaha terkena dampak dari industri manufaktur, industri retail, wisata, perhotelan, penerbangan , dan masih banyak lainnya. Sri mulyani pun mangatakan bahwa dampak dari covid19 yang berdampak pada perekonomian Indonesia lebih kompleks daripada krisis di tahun 1997, 1998, dan 2008-2009. Ditengah pandemi seperti ini pun banyak perusahaan yang menjalankan PHK atau yang sering disebut Pemutusan Hubungan Kerja. Ada beberapa alasan beberapa perusahaan yang menjalankan PHK dengan beberapa alasan, diantaranya lemahnya permintaan pasar apalagi ditengah kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), keterbatasan bantuan modal, dan keterbatasan cash-flow terutama untuk membiayai gaji tenaga kerja.

Semakin tingginya tingkat PHK di tengahnya pandemi ini membuat pengangguran di Indonesia meningkat. Menurut Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah tingkat partisipasi angkatan kerja saat ini sekitar 69 persen, dengan penduduk bekerja 131 juta. Sedangkan, jumlah pengangguran sebanyak 6,8 juta dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) sekitar 4,99 persen. Dari data yang dikumpulkan  oleh Pusat Data dan Informasi Kementerian Ketenagaakerjaan mencatat pada bulann Mei 2020 sebanyak 3.05 juta tenaga kerja terdampak covid19. Data itu berupa 1,7 juta terpaksa harus di PHK dan 1.3 dirumahkan.

Dengan kondisi seperti ini penganggurann dan kemiskinan semakin meningkat di tengan pandemi ini. Sehingga pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp. 120,61 triliun untuk intesif usaha, Rp. 123,,46  triliun untuk UMKM, serta pembiayaan korporasi sebesar Rp. 53,57 triliun. Namun kemiskinan akan tetap terus merangkak naik. Dapat dilihat dari minat beli masyarakat karena pandemi sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup dasar (basic-needs).

Dalam Simulasi yang dilakukan oleh The SMERU Research Institute memperkirakan pada dampak yang paling ringan dari pandemi yaitu, tingkat kemiskinan di Indonesia diprediksi meningkat dari 9,2 persen di September 2019 menjadi 9,7 persen di akhir tahun 2020. Dimana akibatnya diperkirakan sekitar 1,3 juta orang akan tertarik kedalam kemiskinan. Pada studi yang sama skenario dampak terburuk pandemi diestimasi meningkatkan kemiskinan hingga 12,4 persen atau sekitar 8,5 juta orang.

Sedangkan dalam  kajian yang dilakukan Bappenas juga menyebutkan bahwa dampak Covid-19 telah meningkatkan peluang mereka yang berada pada kelompok rentan miskin jatuh ke kelompok miskin sebesar 44 persen. Ini mengindikasikan beberapa kebijakan intervensi pemerintah perlu diperluas untuk menjangkau kelompok rentan tidak hanya sebatas kelompok miskin dan sangat miskin. Saat ini komponen terbesar dana penanganan dampak Covid-19 dialokasikan paling banyak untuk perlindungan sosial yaitu mencapai Rp 203,90 triliun.

Pengangguran adalah problem setiap tahun dan selalu menumpuk. Apalagi ditengah pandemi seperti dan adanya PHK masal dari beberapa perusahaan yan ada. Perosoalan pengangguran bukan sekedar bertumpu pada makin sempitnya dunia kerja, tetapi juga mulai rendahnya kualitas SDM yang kita miliki. Pemerintah harus bisa mengeluarkan kebijakan yang bisa terciptanya lapangan pekerjaan, serta menjalankan kebijakan yang konsisten tersebut dengan sungguh-sungguh sampai terlihat hasil yang maksimal. Pemerintah juga harus memberikan penyuluhan, pembinaan dan pelatihan kerja kepada masyarakat untuk bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya masingmasing untuk mengembangkan kompetensi kerja guna meningkatkan kemampuan, produktifitas dan kesejahteraan.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *