Saturday, October 24, 2020
Home > Opini > Jalan Panjang Perjuangan Buruh oleh Eliaser Wolla Wunga

Jalan Panjang Perjuangan Buruh oleh Eliaser Wolla Wunga

Tanggal 1 mei diperingati sebagai hari buruh internasional. Biasanya di setiap tanggal 1 selalu di barengi dengan aksi turun ke jalan menuntut hak-hak buruh yang belum dipenuhi. Perjuangan kaum buruh berdasarkan sejarahnya lahir dari rahim pergerakan kelas pekerja yang berjuang menuntut keadilan setelah revolusi industri terjadi pada abad ke 19. Sebelumnya, kelas pekerja ini dipaksa untuk bekerja selama lebih dari 10 hingga 16 jam per hari. Hal ini kemudian dirasa memiliki unsur ketidakadilan bagi kaum buruh seperti dilansir dari industrial workers in the world[1]

Berawal dari keinginan mengubah nasib kaum buruh itulah kemudian pada tanggal 1 Mei 1886 terjadi demonstrasi besar-besaran di sejumlah tempat. Sebagian besar pekerja di Amerika Serikat menuntut hak dan keadilannya untuk diberlakukan jam kerja yang normal yaitu 8 jam per hari. Tidak hanya itu, kaum pekerja ini juga menuntut pemberian upah yang layak bagi kesejahteraan hidup mereka. Demonstrasi ini hampir terjadi serentak di seluruh negeri yang melibatkan kaum pekerja hingga 300 ribu orang. Demonstrasi itu bertahan hingga 4 Mei  dan berakhir secara tragis di mana terjadi ledakan bom di area penjagaan polisi yang menewaskan 7 orang polisi dan lainnya luka. Aksi inilah yang membuat para polisi menyerang para demonstran dengan cara menembaki dimana 4 diantaranya meninggal dan lainnya luka-luka. Peristiwa ini di kenal dengan sebutan kerusahan Haymarket[2].

Indonesia sendiri dalam merayakan hari buruh mengalami kisah panjang diantaranya pernah dilarang, diperbolehkan dan dijadikan hari libur. Pada masa Presiden Soekarno memungkinkan gerakan buruh bebas berserikat, bebas berkumpul, bebas mengkritik, dan bebas berpendapat ini di kenal sebagai politieke toestand. Politieke toestand ini memberikan ruang bagi buruh untuk melawan dan berjuang lebih kuat. Namun sempat di larang di masa Orde Baru yang menyatakan bahwa perayaan hari buruh berkaitan erat dengan sosialisme yang sangat dilarang di masa tersebut. sebagai gantinya dibentuklah Federasi Buruh Seluruh Indonesia (1965) yang kemudian hari berganti nama menjadi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI). Pada masa reformasi buruh kembali di rayakan dan juga meminta pemerintah menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional, hal ini tercapai di masa Presiden SBY pada tahun 2013 dan mulai diberlakukan masa libur pertama tahun 2014.

Selama proses panjang aksi-aksi buruh di seluruh dunia selama bertahun-tahun sudah mendapatkan hak untuk cuti, delapan jam kerja, hak berserikat, hak untuk mendapat pesangon, hak untuk mendapatkan hari libur, hingga kesetaraan upah bagi laki-laki dan perempuan adalah hak yang diperoleh  dari perjuangan kaum buruh.

Kategori orang-orang yang masuk kategori buruh biasanya adalah mereka yang  bekerja di pabrik, garmen dan lain-lain. Namun dalam arti luas adalah semua orang yang masih jadi pekerja termasuk mereka yang tidak mau disebut buruh dan lebih nyaman disebut pegawai, dosen, pilot, perawat, jurnalis, artis, dan sebagainya.

Dimanapun kamu berada, apapun pekerjaanmu

Selamat Hari Buruh

Penulis: Eliaser Wolla Wunga

[1] https://archive.iww.org/history/library/misc/origins_of_mayday/

[2] ibid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *