Saturday, October 24, 2020
Home > Populer > Hasil Riset, Kemiskinan Buat Peluang Meninggal Seseorang 10 Tahun Lebih Cepat

Hasil Riset, Kemiskinan Buat Peluang Meninggal Seseorang 10 Tahun Lebih Cepat

Penelitian Imperial College London kembali menyorot bahaya dari ketidaksetaraan dalam hal ekonomi. Hasil penelitian di Inggris menemukan bahwa kemiskinan bisa membuat seseorang meninggal 10 tahun lebih cepat.

Kondisi keuangan buruk membawa orang ke gaya hidup tidak sehat yang berkontribusi pada rendahnya harapan hidup sejak tahun 1980-an, demikian laporan Mirror.

“Harapan hidup yang tidak setara telah bertambah dengan konsisten di Inggris sejak 1980-an,” ujar Profesor Majid Ezzati dari Imperial College London yang merupakan penulis senior laporan itu.

Bagi perempuan, selisihnya adalah 7,9 tahun pada perhitungan 2016, yang termiskin meninggal rata-rata umur 78,8 tahun dan yang terkaya pada usia 86,7 tahun. Untuk laki-laki, selisihnya lebih tinggi yakni 9,7 tahun antara si kaya dan miskin, dengan yang terkaya meninggal pada usia 83,7 tahun.

Penyakit yang menyebabkan meninggal lebih cepat adalah penyakit jantung, kanker, dan dementia. Sementara, kondisi eksternal yang dituding menjadi penyebab adalah upah stagnan, austerity (pengetatan anggaran), ketergantungan pada bank makanan, pola makan buruk dan ketidaksetaraan dalam kesehatan.

Anak balita yang berasal dari keluarga miskin pun tercatat meninggal 2,5 kali lebih cepat ketimbang mereka dari keluarga mampu. Di Inggris, seperempat negaranya termasuk dalam kategori miskin.

Menurut laporan World Economic Forum, ketidaksetaraan penghasilan sedang naik-turun di berbagai negara sejak 1990 sampai 2015.

Indonesia, Georgia, dan Korea Selatan tercatat sebagai negara terbaik dalam mengurangi ketidaksetaraan melalui kebijakan sosial, pajak, dan hak pekerja.

Bagaimana dengan orang kaya?

Journal of the American Medical Association (JAMA) mempublikasikan penelitian terbaru terkait hubungan antara pendapatan dan harapan hidup di Amerika Serikat sepanjang 2001-2014. Kesimpulannya, penduduk kaya memiliki harapan hidup lebih lama ketimbang penduduk miskin.

Seperti diberitakan Bloomberg, penelitian itu didasarkan pada catatan pajak 15 tahun terakhir yang dimiliki Internal Revenue Service dicocokkan dengan catatan kematian Social Security Administration.

Hasilnya menunjukkan, tingginya pendapatan berbanding lurus dengan umur panjang. Kesenjangan harapan hidup antara satu persen penduduk terkaya dengan satu persen penduduk termiskin mencapai 14,6 tahun untuk pria dan 10,1 tahun untuk wanita.

Dari waktu ke waktu kesenjangan itu meningkat. Sepanjang 2001 and 2014, angka harapan hidup di kelompok lima persen penduduk terkaya meningkat sebesar 2,34 tahun untuk pria dan 2,91 tahun untuk wanita.

Sebaliknya, angka harapan hidup di kelompok lima persen termiskin hanya meningkat beberapa bulan saja pada pria dan tak bertambah sama sekali pada wanita.

Jika berdasarkan geografi, penduduk miskin dengan harapan hidup terpendek terdapat di Oklahoma dan kota-kota yang industrinya terancam punah: Gary, Indiana dan Toledo, Ohio.

Adapun, angka harapan hidup terpanjang ada di New York dan San Francisco. Kota dikenal memiliki populasi terpelajar, berpenghasilan tinggi, dan anggaran belanja pemerintahnya yang besar.

Studi ini menguatkan banyak penelitian sebelumnya. Bahwa kesehatan dan kekayaaan saling berhubungan dan akan semakin erat seiring peningkatan penghasilan.

Pada penelitian tahun lalu menunjukkan bahwa ketimpangan antara kemiskinan dan kekayaan bukan hanya terjadi pada kesejahteraan saja. Melainkan juga pada harapan hidup.

 

Reporter: Tommy Kurnia

Sumber: Liputan6 [bim]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *