Saturday, October 24, 2020
Home > Opini > BUMN dalam Mengelola Keuangan Negara oleh Anandi Buyung Crismawan

BUMN dalam Mengelola Keuangan Negara oleh Anandi Buyung Crismawan

Pada jaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono disaat masa ke dua jabatanya ada winfall, pada saat itu harga komoditi mineral tambang dunia melonjak naik. Dengan menjadikan Batubara sebagai Primadona atau sumber penghasilan. Sehingga pada tahun 2010-2013 itu seakan – akan Indonesia sedang berada pada titik tertingginya pada pertumbuhan ekonominya.

Pada saat itu tenaga kerja pembangunan di Pulau Jawa semua pergi merantau ke Kalimantan, Sulawesi, Sumatra untuk bekerja di tambang. Semua tambang meningkatkan produksinya dan secara tidak langsung pembangunan juga meningkat. Sehingga menyebabkan industri makanan, minuman, cafe tempat nongkrong muncul dimana mana.

Sehingga pada akhirnya pada akhir tahun 2014 harga komiditi turun sampai dengan akhir tahun 2015.

Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang lesu karena pada saat itu harga komoditi turun.  Dari kejadian ini dapat diratik kesimpulan bahwa membangun ekonomi negara itu ada 2, yang pertama memang punya stratetgi nasional dan yang kedua adalah ya memang dapat durian runtuh winfall, beruntung saja.

Pada masa Presiden Pak Jokowi yaitu pada tahun 2014 berfokus untuk membangun infrastruktur statis. Pada saat itu beruntung BUMN belum ke pakai banyak walaupun manajemen BUMN itu sifatnya jangka pendek, dan juga tidak bener benar bagus dalam mengelola manajemennya, akan tetapi masih ada peluang untuk mendapatkan modal.

Di sisi lain sebagian besar masyrakat Indonesia bepikir, Lebih baik BUMN yang mengelola daripada di kelola swasta.

Ini pernyataan yang harus di benahi agar tidak terjadi kesalahan yang fatal ketika kita menjadi warga negara, apa gunanya BUMN jika terus menggerogoti pendapatan negara dan terus berhutang sana sini dan hanya menyumbangkan berapa persen saja untuk pendapatan Negara. Jika dibandingkan dengan swasta, perusahaan sebesar BUMN kalau di swasta  maka devidennya bisa 4 kali lipat lebih besar di banding setoran sekarang.

Dan pada saat itu dibuatlah sebuah pemahaman bahwa ketika BUMN berhutang sana sini itu bukan negara yang bertanggung jawab dan berhutang, akan tetapi itu korporasi. Ini adalah sebuah pemahaman yang seola masyrakat atau warga negara Indonesia memandang BUMN adalah sebuah perusahaan yang terus memproduksi barang dan jasa tanpa ada rasa sedikit curiga BUMN terus menggerogoti kekayaan negara.

Para pejabat sekarang anggap saja sudah mendoktrin dan menyuapi ide bahwa diluar ide mereka maka salah semua.

Sehingga untuk membangun pertumbuhan ekonomi indonesia bisa menggunakan sumber lain yaitu BUMN di revaluasi naik nilainya lalu mendorong peningkatan melalui hutang korporate.

Pada 5 tahun yang lalu hal itu di lakukan. Harusnya saat ini BUMN melakukan pembenahan untuk lebih fokus dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia, akan tetapi kemarin minta setoran pemerintah hingga 150 triliun dikarenakan banyak BUMN merugi.

Misal, perusahaan tambang freeport. Kenapa mengambil 51% ? Dengan dalil supaya terlihat nasionalis? Atau ingin untung besar? Apa tujuan ambil freeport?

Freeport itu jika dilihat pada pembukuannya untung 200 juta dolar pertahun, kita mengambil 51% saham freeport senilai 4 bilion dolar an alias kalau tanpa bunga balikin dari 51% di kali 200 juta dolar kurang lebih senilai 100 juta dolar pertahunnya, artinya ketika melakukan investasi beli 51% saham freeport  itu akan kembali 40 tahun lagi kembali modal awalnya, atau jika ditambag bunganya hampir 50 tahun balik modalnya.

Kapan untungnya, dan aset freeport 20 tahun lagi aja jangan jangan sudah habis barang kali, kok malah berpotensi merugikan negara gini ?

Saya harap korporasi dan Mentri BUMN dan jajaranya dapat benar-benar mengelola Perusahaan Milik Negara sesuai dengan SOP dan visi misinya, dan jangan sesekali mengatas namakan Perusahaan BUMN untuk memperkaya diri sendiri atau kepentingan kelompok tertentu. Apalagi dana dari negara yang digunakan dan alih alih berhutang sana sini dengan alasan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang pada akhirnya malah memberatkan Indonesia dalam membayar hutang.

 

Anandi Buyung Crismawan (201710180311103)
MAHASISWA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *